Lombok Barat- Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lombok Barat resmi membuka Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) untuk 22 Cabang Olahraga (Cabor) Lombok Barat. Bukan di dalam ruangan, pembukaan malah dilakukan di tengah laut.sekitar 210 atlet lengkap dengan official masing-masing, diajak parade menaiki 40 perahu di sekitar perairan Gili Gede, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Sabtu (20/12/2025).
Suasana parade semakin ramai meski di tengah laut, karena para atlet masing-masing cabor nampak bersorak sorai dengan diiringi tabuhan perkusi dari regu Marching Band.
Ketua KONI Lombok Barat, Abu Bakar Abdullah mengatakan pembukaan Pelatda di tengah laut tersebut merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan semangat serta menjaga mental para atlet. Ia mengeklaim model acara tersebut pertama kali digelar di Nusa Tenggara Barat.
“Lombok atau NTB ini kan sudah dilirik dunia, sehingga perlu kami rancang acara atau atraksi yang unik dan menarik. Ya tentunya dengan harapan dapat memberikan semangat juang para ,patriot olahraga kami juga,” ujarnya, Minggu (20/12/2025).
Abu Bakar berharap para atlet mempersiapkan diri dalam Pelatda tersebut, agar mampu merealisasikan target 89 medali untuk Lombok Barat pada gelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB 2026 mendatang.
“Setelah kami menganalisa keunggulan maupun kekurangan kita dari para pesaing, target kita tetapkan menjadi 89 medali. Insyaallah tercapai kalau dipersiapkan mulai sekarang,” jelasnya.
Salah satu atlet cabor renang, Adnintya Putri Asih, mengaku terkesan dengan pembukaan Pelatda di tengah laut tersebut. Ia mengatakan acara seperti itu dibutuhkan para atlet sebagai penghibur di tengah latihan yang sangat keras.
Atlet penyumbang medali emas pada gelaran Porprov 2025 tersebut menyatakan kesiapannya untuk menghadapi Porprov 2026 mendatang. Ia optimistis akan membawa pulang medali emas untuk yang kedua kalinya pada cabor renang.
“Sejauh ini latihannya tetap rutin selama semingguan ditambah dengan latihan fisik juga supaya lebih matang persiapannya. Insya allah bisa nyumbang emas lagi,” tandasnya.
Selain it juga di hari yang sama Festival Gili Gede yang bertajuk “Gili Gede Begawe”. Perhelatan ini bukan sekadar pesta rakyat biasa, melainkan sebuah pernyataan kuat bahwa Sekotong kini siap bersanding dengan destinasi papan atas lainnya sebagai pusat promosi wisata berbasis budaya dan olahraga di NTB.
Acara yang berlangsung meriah ini secara resmi menutup kalender pariwisata Lobar tahun 2025. Dengan latar belakang laut biru yang tenang dan gugusan pulau-pulau kecil, Gili Gede Begawe menyuguhkan harmoni antara ketangkasan fisik dalam olahraga air dan kelembutan atraksi seni tradisional yang sarat makna.
Kepala Dinas Pariwisata Lobar, Agus Gunawan, yang hadir langsung dalam acara tersebut menyampaikan bahwa festival ini adalah bagian dari grand design pengembangan destinasi masa depan. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem pariwisata yang tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan jalur-jalur utama yang sudah mapan. “Gili Gede Begawe ini adalah event terakhir kita di tahun ini, yang kemudian besok akan kita sambung dengan agenda Fun Run. Namun, poin pentingnya bukan hanya soal keramaian hari ini. Ke depan, festival ini harus dipromosikan lebih luas lagi. Kita tidak ingin ini hanya dinikmati oleh masyarakat sekitar, tetapi harus kita koneksikan secara langsung dengan jalur wisata Senggigi hingga menjangkau wisatawan dari kapal pesiar,” ujarnya disela-sela acara.
Kegiatan ini memadukan aspek sport tourism dengan kekayaan identitas lokal. Pengunjung disuguhkan pemandangan spektakuler parade perahu hias dan lomba perahu layar yang merupakan tradisi turun-temurun masyarakat pesisir. Di sisi lain, daratan Gili Gede bergetar oleh suara Gendang Beleq, tari Gandrung yang memikat, hingga ketangkasan para petarung dalam atraksi Peresean.
Festival ini sejatinya bukanlah barang baru bagi warga Gili Gede. Tokoh masyarakat setempat, Abubakar Abdullah, mengungkapkan bahwa “Gili Gede Begawe” merupakan hasil dari perjalanan panjang kreativitas warga yang terus berevolusi. Bermula dari pentas seni sederhana di tengah laut beberapa tahun lalu, kini acara tersebut telah bertransformasi menjadi festival tahunan yang masuk dalam kalender resmi daerah. “Ini sebenarnya sudah yang keempat kalinya. Awalnya hanya festival air, lalu berkembang menjadi pentas seni di tengah laut yang pertama kali diinisiasi oleh warga. Sekarang, identitasnya semakin kuat dengan nama Festival Gili Gede,” tutur Abubakar.












