Lombok Barat- Arus desakan untuk mengevaluasi jajaran direksi PT Tripat (BUMD) semakin kencang. Kali ini, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lombok Barat secara terbuka meminta Bupati Lombok Barat untuk segera memecat Direktur Utama PT Tripat, Wewe Anggrainingsih. Pada Sabtu 2/5/2026
Tuntutan ini muncul karena PT Tripat dinilai tidak mampu mengelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan baik dan benar. Sekretaris GP Ansor Lombok Barat, Suhaili, menegaskan bahwa kepemimpinan PT TRIPAT saat ini justru kontradiktif dengan semangat Bupati yang ingin membangun daerah mulai dari tingkat desa.
” Kok semangat sejahtera dari desa kontradiktif dengan jargon lobar/">bupati Lobar sejahtera dari desa” ucap suhaili
Suhaili menyebutkan, ketidakmampuan Dirut PT Tripat dalam mengelola aset daerah, khususnya Taman Narmada, berpotensi merusak sistem tata kelola di Lombok Barat secara luas.
Wewe Anggreaningsih tidak mampu menerjemahkan visi dan misi Bupati. Jadi GP Ansor mendesak Bupati Lobar Lalu. M Zaini segera mengganti dirut PT. Tripat daripada merusak citra pariwisata budaya dan cagarbudaya Taman Narmada yang sudah dikenal dunia internasional. Karena terang suhaili mengelola taman narmada bukan saja soal management berbasis keuntungan semata tapi ada unsur pendidikan dan historikal lama yang harus dipertahankan .
“Taman Narmada itu cagar budaya tidak boleh sembarangan dalam melakukan penataan harus ada izin dari Balai atau kementrian kebudayaan” jelasnya
Menurutnya, BUMD seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi yang selaras dengan komitmen pemerintah daerah, bukan justru menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.
Sorotan terhadap pengelolaan Taman Narmada oleh PT Tripat sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, tokoh nasional Bambang Haryo Soekartono (BHS) juga sempat melayangkan kecaman keras terkait kebijakan penebangan pohon-pohon tua di kawasan situs bersejarah tersebut.
BHS menilai tindakan tersebut sebagai bentuk perusakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi dan seharusnya dijaga kelestariannya.
“Taman Narmada adalah situs sejarah yang luar biasa. Memotong pohon-pohon berusia ratusan tahun berarti merusak identitas budaya kita,” ujar BHS saat meninjau lokasi tersebut beberapa waktu lalu.
Kritik dari berbagai pihak ini mengerucut pada satu titik: PT Tripat dianggap lebih mengedepankan aspek komersial jangka pendek daripada pelestarian nilai sejarah dan pemberdayaan masyarakat lokal.
GP Ansor khawatir, jika manajemen tidak segera dibenahi, Taman Narmada yang merupakan ikon kebanggaan masyarakat Lombok Barat akan kehilangan marwahnya sebagai cagar budaya. Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Tripat belum memberikan tanggapan resmi terkait desakan pencopotan jabatan tersebut.
Sementara itu, di kutip dari Lombok Post Wewe Anggrainingsih memberikan klarifikasi dan membantah semua tudingan yang di alamatkan kepada dirinya yang mengelola taman Narmada.
“Saya bekerja sangat hati-hati. Sebelum menebang, kami melihat ketebalan dan usia pohon secara umum. Yang kami tebang di sisi timur ini kondisinya sudah keropos dan mati, hanya tinggal batang tanpa daun maupun buah. Jadi demi keamanan, kami putuskan untuk ditebang,” paparnya.










