Artikel Opini Pembelajaran
Oleh
Dian Rahayu
Mahasiswi Magister Pedagogi
Universitas Muhammadiyah Malang
Buku Kalah oleh TikTok
Di banyak rumah hari ini, pemandangan seperti ini sudah menjadi hal biasa: anak sekolah dasar duduk berjam-jam menatap layar ponsel sambil tertawa melihat video TikTok yang terus berganti. Mereka begitu cepat menghafal lagu viral, tren joget, bahkan ucapan para kreator media sosial. Namun di saat yang sama, banyak dari mereka justru kesulitan menyelesaikan satu halaman bacaan atau menceritakan kembali isi buku yang baru dibaca.
Buku perlahan mulai kalah menarik dibanding layar yang menyala di genggaman anak-anak.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan kebiasaan hiburan anak, melainkan tanda bahwa budaya literasi sedang menghadapi tantangan serius. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penggunaan internet pada anak usia sekolah dasar terus meningkat setiap tahun.
Sebagian besar anak menggunakan internet untuk hiburan dan media sosial dibanding membaca atau mencari bahan pembelajaran. Anak-anak kini hidup di tengah arus informasi yang serba cepat, singkat, dan instan. Akibatnya, membaca buku yang membutuhkan fokus dan kesabaran mulai terasa membosankan bagi mereka.
Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini perlahan membentuk cara berpikir anak sejak usia dini. Mereka terbiasa melihat potongan informasi pendek tanpa memahami secara mendalam. Anak menjadi cepat menggulir layar, tetapi lambat memahami isi bacaan. Jika keadaan ini terus dianggap biasa, sekolah dasar bukan hanya akan kehilangan budaya membaca, tetapi juga berisiko kehilangan generasi yang mampu berpikir kritis, fokus, dan mencintai pengetahuan.
Di tengah derasnya arus digital, pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah TikTok berbahaya atau tidak, melainkan apakah kita sudah cukup serius menjaga buku tetap hidup di tangan anak-anak.
Mengapa Anak SD Lebih Hafal Konten TikTok daripada Isi Buku?
Kondisi ini bukan sekadar perasaan atau dugaan. Data menunjukkan bahwa penggunaan internet dan media sosial pada anak terus meningkat. Survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menyebut sekitar 48,10% anak usia 7–12 tahun di Indonesia telah menggunakan internet. Bahkan, data pemerintah menunjukkan hampir 74% anak usia 5–17 tahun telah mengakses internet pada tahun 2024. Ini berarti sebagian besar anak Indonesia sudah hidup sangat dekat dengan dunia digital sejak usia sekolah dasar.
Masalahnya, internet lebih sering digunakan untuk hiburan dibanding pembelajaran. Data Statistik Pendidikan 2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 90% peserta didik menggunakan internet untuk hiburan, sedangkan sekitar 67% mengakses media sosial.
TikTok menjadi salah satu aplikasi yang paling sering digunakan anak-anak karena menyajikan video singkat, lucu, cepat, dan membuat pengguna terus ingin melihat konten berikutnya.
Tidak heran jika banyak anak SD kini lebih hafal lirik lagu viral daripada isi bacaan sekolah. Otak anak perlahan terbiasa menerima informasi secara cepat dan instan. Video berdurasi 15–30 detik terasa lebih menarik dibanding membaca cerita beberapa halaman. Akibatnya, membaca mulai dianggap membosankan karena membutuhkan fokus dan kesabaran.
Di sinilah persoalan besar itu mulai terlihat. Anak-anak tumbuh di tengah arus informasi yang serba cepat, instan, dan terus bergerak. Video berdurasi beberapa detik terasa jauh lebih menarik dibanding halaman buku yang membutuhkan fokus dan kesabaran. Akibatnya, membaca perlahan kehilangan tempat di kehidupan anak sekolah dasar. Banyak anak lebih mampu mengingat tren media sosial daripada isi cerita yang mereka baca sendiri.
Kondisi ini tidak sepenuhnya salah anak. Lingkungan di sekitar mereka ikut membentuk kebiasaan tersebut. Gadget sering menjadi cara paling mudah untuk menenangkan anak, sementara budaya membaca di rumah maupun sekolah belum benar-benar tumbuh kuat. Perpustakaan sekolah mulai sepi, tetapi layar ponsel anak-anak hampir tidak pernah benar-benar mati. Jika keadaan ini terus dianggap biasa, kita bukan hanya menghadapi anak yang malas membaca, tetapi juga generasi yang terbiasa menerima informasi tanpa memahami makna secara mendalam.
Ketika Buku Kalah oleh Layar Gadget
Kebiasaan anak yang lebih akrab dengan layar dibanding buku akhirnya membawa dampak yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hari ini, tidak sedikit guru sekolah dasar mengeluhkan siswa yang sulit fokus saat belajar, cepat bosan ketika membaca, dan lebih tertarik membicarakan tren media sosial dibanding pelajaran di kelas. Anak-anak tampak aktif di depan layar, tetapi mudah kehilangan perhatian ketika berhadapan dengan buku bacaan yang lebih panjang.
Fenomena ini muncul karena media sosial, terutama video pendek seperti TikTok, membentuk pola belajar yang serba cepat dan instan. Anak terbiasa menerima hiburan dalam hitungan detik. Mereka cukup menggulir layar untuk mendapatkan video baru tanpa perlu berpikir terlalu lama. Lama-kelamaan, otak anak menjadi terbiasa dengan rangsangan cepat dan terus berubah. Akibatnya, membaca buku yang membutuhkan fokus, imajinasi, dan kesabaran terasa jauh lebih melelahkan.
Tidak sedikit orang tua yang mulai merasakan dampaknya di rumah. Anak menjadi sulit lepas dari gadget, mudah marah ketika penggunaan ponsel dibatasi, bahkan kehilangan minat untuk bermain atau membaca. Di sekolah, beberapa guru juga mulai menemukan siswa yang kesulitan memahami isi bacaan sederhana karena lebih terbiasa melihat gambar bergerak daripada membaca teks panjang. Ini bukan sekadar perubahan kebiasaan, tetapi perubahan cara anak memahami dunia.
Yang lebih mengkhawatirkan, budaya layar perlahan mengurangi ruang anak untuk berpikir mendalam. Anak terbiasa melihat informasi singkat tanpa diajak memahami makna secara utuh. Mereka cepat mengetahui sesuatu, tetapi tidak terbiasa merenungkan atau mempertanyakan informasi tersebut. Jika kondisi ini terus berlangsung, sekolah dasar bukan hanya kehilangan budaya membaca, tetapi juga kehilangan kesempatan membentuk generasi yang kritis, fokus, dan mampu berpikir dengan baik di tengah banjir informasi digital.
*Menyelamatkan Budaya Literasi Anak SD*
Di tengah derasnya arus digital, menyelamatkan budaya literasi anak sekolah dasar tidak cukup hanya dengan melarang gadget atau menyalahkan media sosial. Teknologi akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Persoalan sebenarnya adalah bagaimana sekolah, keluarga, dan lingkungan mampu memastikan bahwa anak tidak kehilangan kemampuan membaca, berpikir, dan memahami kehidupan secara mendalam.
Sekolah dasar harus kembali menjadi tempat yang menumbuhkan rasa ingin tahu, bukan sekadar mengejar nilai akademik. Literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca huruf, tetapi harus menjadi kebiasaan yang hidup dalam keseharian siswa. Anak perlu merasakan bahwa membaca bukan kewajiban yang membosankan, melainkan jendela untuk mengenal dunia. Karena itu, sekolah perlu menghadirkan ruang baca yang hidup, buku-buku yang dekat dengan dunia anak, serta kegiatan literasi yang menyenangkan dan menyentuh emosi mereka. Anak-anak lebih mudah mencintai buku ketika membaca tidak terasa seperti perintah.
Di sisi lain, keluarga memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang sering disadari. Budaya membaca tidak lahir dari nasihat, melainkan dari kebiasaan yang dilihat anak setiap hari. Sulit mengharapkan anak gemar membaca jika rumah lebih dipenuhi suara video daripada percakapan dan cerita. Orang tua tidak harus menjadi guru, tetapi perlu menjadi teladan. Membacakan cerita sebelum tidur, menyediakan waktu tanpa gadget, atau sekadar menemani anak membaca beberapa halaman buku dapat meninggalkan pengaruh yang bertahan lama dalam ingatan mereka.
Yang juga penting dipahami, anak-anak hari ini hidup di dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Karena itu, literasi juga perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Buku dan teknologi tidak harus saling mengalahkan. Sekolah dan orang tua justru perlu mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara sehat dan cerdas. Media digital dapat menjadi sarana belajar jika anak dibimbing untuk memilih tontonan yang bermakna, bukan hanya hiburan tanpa arah.
Pada akhirnya, persoalan literasi anak sekolah dasar bukan hanya tentang buku yang kalah oleh TikTok atau gadget yang semakin mendominasi kehidupan anak-anak. Persoalan yang sesungguhnya adalah tentang arah masa depan generasi yang sedang kita bentuk hari ini. Ketika anak lebih terbiasa menikmati hiburan singkat daripada membaca dan memahami sesuatu secara mendalam, maka perlahan kita sedang kehilangan ruang untuk melahirkan generasi yang kritis, sabar, dan mampu berpikir jernih.
Karena itu, menyelamatkan budaya literasi tidak bisa dilakukan oleh sekolah saja, juga tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan gadget. Dibutuhkan kerja bersama antara guru, orang tua, dan lingkungan untuk menghadirkan kembali kebiasaan membaca dalam kehidupan anak-anak. Langkah kecil seperti membacakan cerita, menyediakan waktu tanpa layar, menghidupkan perpustakaan sekolah, hingga menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik dapat menjadi awal perubahan yang besar.
Anak-anak tidak membutuhkan dunia yang sepenuhnya bebas dari teknologi. Mereka hanya membutuhkan pendampingan agar tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir, memahami, dan merasakan kehidupan dengan lebih dalam. Sebab di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kemampuan membaca dan memahami makna tetap menjadi bekal terpenting bagi masa depan mereka. Buku mungkin sedang kalah hari ini, tetapi jika sekolah dan keluarga mau bergerak bersama, budaya membaca masih bisa diselamatkan sebelum benar-benar terlambat.












